OLEH: Ustaz Fauzan Abu Muhammad Al-Kutawy
Namun kebanyakan manusia tidak mengetahui makna yang benar dari kalimat ini.
Lihatlah.., karena kalimat ini memiliki makna yang sangat mendalam sehingga tidak cukup hanya sekedar dengan ucapan, oleh sebab itulah Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengajak manusia (Masyarakat Quraisy) Untuk mengucapkan kalimat ini sebagaimana dalam sebuah Hadist Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا لَا إِلَهَ إلَّا اللَّهُ تُفْلِحُوْا
“Wahai sekalian manusia Ucapkanlah La Ilaaha Illallah maka kalian akan beruntung”.
[HR. Ahmad ( 16023) dan Ibnu Hibban (6562)].
Ketika orang-orang Quraisy diperintahkan untuk mengucapkan kalimat ini, maka merekapun menolak dan mereka mengatakan:
أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
"Apakah si Muhammad ingin menjadikan sembahan- sembahan itu menjadi sembahan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat Aneh."
[QS. Shaad: 5].
Ini menunjukkan bahwasanya orang-orang Quraisy mengetahui bahwasanya pada kalimat tauhid ini memiliki makna yang mendalam bukan sekedar hanya diucapkan, seandainya hanya cukup untuk diucapkan maka apa sulitnya bagi mereka mengucapkannya semata, tetapi karena di dalamnya terdapat konsekuensi ketika mengucapkannya yaitu menjadikan sembahan hanya satu maka mereka pun menolak dengan penentangan dan permusuhan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Sungguh Alquran juga menyebutkan bahwasanya orang-orang musyrik dari kalangan Quraisy mereka juga meyakini bahwasanya Allah yang memberi rezeki kepada mereka, yang menguasai mereka dan mengatur mereka sebagaimana firman Allah:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”
[QS. Yunus: 31].
Namun bersamaan dengan hal tersebut pengetahuan mereka bahwasanya Allah yang mencipta, mengatur dan memberi rezeki kepada mereka, tidaklah menjadikan mereka masuk kedalam Islam, hal tersebut karena mereka belum merealisasikan dari makna La Ilaaha Illallâh yang sebenarnya.
Dan diantara perkara yang menunjukkan pentingnya mengetahui (mengilmui) makna kalimat tauhid ini adalah bahwasanya tidaklah bermanfaat ucapan seseorang dengan kalimat ini ( Laa Ilaaha Illallah ) kecuali jika ia mengetahui makna yang sebenarnya.
Sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwasanya tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan minta ampunanlah terhadap dosa- dosa engkau."
[QS.Muhammad: 19].
Maka kalimat tauhid ini, akan bermanfaat ketika seseorang mengetahui makna yang sebenarnya sehingga inilah yang akan menuntun dan memasukkan dia ke dalam surga.
Dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
مَنْ مَاتَ وهو يعلَم أنه لا إله الّا اللّه دخَلَ الجنةَ
"Barang Siapa yang meninggal dalam keadaan dia mengetahui (mengilmui) bahwasanya tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka dia masuk surga."
[HR. Muslim (145)].
Kata (لا) Laa (tidak) dalam bahasa arab disebut Laa Nafiyah Liljinsi yaitu huruf lam yang berfungsi meniadakan keberadaan seluruh jenis kata yang setelahnya,
contoh:
لَا رَجُلَ فِيْ الدَّارِ
"Tidak ada seorang lelaki pun di rumah".
Menunjukkan penafian (peniadaan) siapapun juga, yaitu tak ada seorang lelakipun di rumah, baik lelaki dewasa, atau kecil, sehat maupun sakit.
Sehingga Laa dalam kalimat tauhid (Laa Ilaaha Illallohu) bermakna meniadakan semua jenis Ilaah (sembahan) dengan bentuk apapun dan siapapun juga .
Kata Ilaah (إله) merupakan bentuk masdar dari kata:
ألِهَ ـ يَأْلَهُ
Yang artinya beribadah.
Berarti Ilaahun ( إلٰه) isim masdar yang bermakna maf'ul (objek) sehingga artinya sesembahan (yang di ibadah).
Maka jika kita gabungkan kata Laa (لَا) dengan Ilaah ( إلٰٰه) akan bermakna:
“Tidak ada satupun sesembahan dalam bentuk apapun juga”.
Kata Illa ( إلّا) disebut huruf istitsna' ( pengecualian) yaitu huruf yang datang untuk mengeluarkan kata yang terletak setelah Illa dari hukum yang dinafikan (yang ditiadakan) oleh Laa, sebagai contoh:
لَا رَجُلَ فِيْ الدَّارِ إلّا مُحَمّد
"Tidak ada seorang lelaki pun di rumah kecuali Muhammad".
Menunjukkan tak ada seorangpun juga di rumah namun Muhammad ada di rumah tersebut.
Yaitu penetapan bahwa Muhammad adalah satu-satunya lelaki yang ada didalam rumah tersebut.
Kata Allah ( اللّه) menurut sebagian ahli bahasa bahwa nama Allah berasal dari kata Al Ilaah, Hamzah nya di hilangkan untuk mempermudah bacaan ,lalu huruf Laam yang pertama diidghamkan pada huruf Laam yang kedua sehingga menjadi satu Laam yang ditasydid lalu Laam yang kedua dibaca tebal = Alloh.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta'ala mengatakan:
اللّهُ وَحْدَهُ هو المَعْبُوْدُ المَأْلُوْهُ الّذي لَا يَسْتَحِقُّ العِِبَادَةُ سِوَاه
"Allah Semata adalah Yang diibadahi, yang di sembah, yang tidak ada sesuatu pun yang berhak diibadahi selain-Nya."
[Madarijus Salikin (3/144)].
Dari keterangan diatas maka para ulama menyebutkan bahwasanya di dalam kalimat tauhid (Laa Ilaaha Illallohu) terkandung 2 rukun.
Dari penjelasan yang diatas, maka para ulama menyimpulkan bahwasanya didalam kalimat tauhid terdapat 2 rukun :
1. An-Nafyu (Peniadaan)
Yaitu yang terdapat pada kalimat kalimat لَا إلٰه (Tiada sesembahan).
Maknanya yaitu seseorang yang telah menetapkan atau mengikrarkan La Ilaaha Illallah harus mengingkari seluruh bentuk sesembahan dan peribadahan apapun bentuknya dari selain Allah, baik manusia, benda mati, orang shalih, nabi ,malaikat dan lain-lain.
Maka tidak ada sama sekali sesembahan dalam bentuk apapun juga yang berhak untuk di ibadahi.
2. Al- Itsbat ( Penetapan)
Yaitu pada kalimat إِلَّا اللّهُ ( kecuali Allah).
Maknanya yaitu seseorang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah harus mengakui dan menetapkan satu-satunya yang berhak dijadikan sesembahan adalah Allah subhanahu wa ta’ala.
Maka ketika seseorang telah meninggalkan seluruh ibadah kepada selain Allah ,namun dia tidak beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata maka dia belum merealisasikan dari makna Laa Ilaaha Illallah.
Dua rukun ini telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam firman- Nya:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ
“Maka barangsiapa yang ingkar/kufur terhadap thogut dan beriman kepada Allah maka sungguh dia telah berpegang teguh dengan tali yang sangat kuat.”
[QS. Al Baqarah: 256].
Thogut adalah segala sesembahan selain Allah, sedangkan ikatan yang kuat adalah Laa Ilaaha Illallah.
Sehingga siapa yang mengingkari semua bentuk sesembahan dan hanya mengakui bahwa Allah subhanahu wa ta'ala semata yang berhak untuk di sembah berarti dia telah merealisasikan ayat ini dan mengikrarkan Laa Ilaaha Illallah dengan benar.
Allah subhanahu wa ta'ala juga berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئً
"Dan sembahlah Allah semata dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun juga." [QS. An Nisa’: 36].
Ayat ini dan yang semisalnya juga menunjukkan makna yang benar dari kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah yaitu menetapkan peribadahan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dan menafikan/ meniadakan seluruh peribadatan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.
Dengan mengetahui makna inilah, maka orang-orang kafir Quraisy menolak seruan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan terang-terangan ketika Beliau menyeru mereka untuk mengikrarkan Laa Ilaaha Illallah (kalimat tauhid) ini.
Allah subhanahu wa ta’ala hikayatkan dalam Alqur’an, Allah berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ (٣٥ ) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ ( ٣٦ )
“Sesungguhnya mereka jika dikatakan kepada mereka Laa Ilaaha Illallah maka merekapun menyombongkan diri dan mereka mengatakan; Apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami disebabkan oleh seorang penyair yang gila.” [QS. Shaaffat: 35- 36].
Disebabkan karena mereka mengetahui makna kalimat ini yaitu; keharusan untuk meninggalkan sembahan-sembahan selain Allah inilah maka mereka pun menolak ajakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mereka menentang dakwah Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Oleh sebab itulah ketika ada seseorang yang dia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah namun dia masih mendatangi kuburan dan mengagungkannya, meminta rezeki kepada selain Allah, beribadah kepada selain Allah, menyembelih kepada selain Allah, bernazar kepada selain Allah , maka pada hakikat nya dia belum merealisasikan makna dari kalimat Laa Ilaaha Illallah.
Oleh sebab itulah makna yang benar pada kalimat Laa Ilaaha Illallaah ini adalah:
لَا مَعْبُوْدَ بِحَقِّ إِلَا اللّهُ
"Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah".
Dari penjelasan yang di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa makna yang benar dari La Ilaha Illallah adalah :
لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إلَّا اللّهُ
Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.
Diantara Dalil yang menunjukkan hal ini adalah Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“Dialah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Al-haq (maha benar), dan apa saja yang diibadahi selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah kebatilan, dan Sesungguhnya Dialah Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
[QS. Al Hajj 62]
Ayat ini menunjukkan bahwasanya adanya sembahan-sembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala yang diibadahi oleh orang-orang musyrik, namun sembahan-sembahan tersebut adalah sembahan-sembahan yang batil, yang tidak benar di sisi Allah Subhana waTa’ala.
Karena sebab perkara inilah, maka orang-orang musyrik menentang Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam ketika diseru untuk mengucapkan Laa Ilaaha Illallohu, dan mereka mengatakan sebagaimana yang Allah firmankan:
وَقَالَ الْكَافِرُون هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (٤) أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ (٥)
“Berkatalah orang-orang kafir: Dia adalah seorang penyihir yang pendusta, apakah ia ingin menjadikan sembahan-sembahan yang banyak menjadi satu sembahan ? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat aneh.”
[QS. Shad: 4- 5]
Dan diantara makna-makna yang batil ( salah) dalam La Ilaha Illallah adalah :
1. Laa ma'buda illallah ( لا مَعْبُوْدَ إلّا اللّه) tidak ada yang disembah kecuali Allah.
Ini adalah makna yang batil, karena mengharuskan makna bahwasanya seluruh sembahan yang haq maupun yang batil itu adalah Allah.
2. Laa khaliq illallah ( لَا خَالِقَ إلَّا اللّهُ) tidak ada yang menciptakan kecuali Allah.
Ungkapan ini adalah ungkapan yang benar, namun dijadikan sebagai makna laa Ilaaha Illallaah adalah perkara yang salah karena hal tersebut juga diyakini oleh orang-orang musyrik, mereka meyakini bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala satu – satunya yang mencipta, mengatur & menguasai namun hal tsb tidaklah menyebabkan mereka masuk kedalam Islam, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia hanyalah dengan tujuan untuk beribadah hanya kepada-Nya semata:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.”
[QS. Ad Dzariyat: 56]
3. Laa Hakima illallah ( لَا حَاكِمَ إلَّا اللَّه) tidak ada yang menghukumi kecuali Allah.
Ini juga kalimat yang benar, karena satu-satunya Hakim yang benar hanyalah Allah, tapi hal tersebut bukan perkara yang dimaksudkan dalam makna kalimat Laa Ilaaha Illalloh.
4. Laa Rabba Illallah (لا رب إلا الله) Tidak ada yang mencipta, mengatur & menguasai kecuali Allah.
Ini adalah kalimat yang benar dan keyakinan yang harus diyakini setiap orang, namun menjadikan hal tersebut adalah makna kalimat Laa Ilaaha Illallohu adalah kesalahan, karena hal tersebut adalah perkara yang juga ditetapkan orang- orang kafir dizaman Nabi shalallahu alaihi wasallam.
5. Laa Maujuda Illallohu (لا موجود إلا الله) Tidak ada yang ada kecuali Allah.
Dan ini adalah makna yang paling batil dan sesat, karena kandungan ungkapan tersebut hanya mengarah kepada dua perkara :
- Bahwasanya segala sesuatu hakikatnya tidaklah ada, dan yang ada hanyalah Allah. Ini adalah ungkapan sesat yang diketahui oleh setiap orang yang berakal.
- Tidak ada yang ada kecuali Allah berarti seluruh yang ada ini adalah Allah.
Dan ini adalah ucapan kekafiran yang paling kafir.
Dan banyak lagi tafsir - tafsir yang lainnya yang bathil yang tidak sesuai dengan apa yang disebutkan oleh para ulama salaf berdasarkan dalil dari Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Dan Tafsir yang benar pada kalimat Laa Ilaaha Illallohu adalah sebagaimana telah kita sebutkan :
لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إلَّا اللّه
"Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah subhanahu wa ta'ala".
Sebagaimana hal tersebut telah ditunjukkan dalam dalil-dalil yang jelas dari Al Qur'an dan Sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam.
___________________________
Ustaz Fauzan Abu Muhammad Al-Kutawy
Pendakwah Bebas
Telegram: https://t.me/gerakanpenamy
Instagram: https://www.instagram.com/gerakanpenamy
Sejarah: https://revolusimelayubaru.blogspot.com/
Sejarah: https://revolusimelayubaru.blogspot.com/
_____________________________

Comments
Post a Comment