Cara Menafsirkan Al-Quran

OLEH: Ustaz Fauzan Abu Muhammad Al-Kutawy

 Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan sumber penafsiran Al-Quran ada empat :

1. Tafsir Alquran dengan Alquran.
2. Tafsir Alquran dengan hadits Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam.
3. Tafsir Alquran dengan ucapan para Sahabat.
4. Tafsir Alquran dengan ucapan para Tabi'in.

[Muqaddimah Ushul At Tafsir (93)]

1. Tafsir Al-Quran dengan Al-Quran.

Adalah cara tafsir yang paling utama dan paling agung, karena Alquran adalah Kalamulloh (Firman Allah), maka tentu Allah ta'ala lebih mengetahui maksud dari firman-Nya sehingga penjelasan langsung dari Allah adalah perkara yang paling agung dan penuh dengan kebenaran.

Dan diantara bentuk tafsir Al-Quran dengan Al-Quran ini kadang datang dengan konteks urutan ayat secara langsung, seperti firman-Nya :

والسماء والطارق ١
وما أدراك ما الطارق ٢
النجم الثاقب ٣

"Demi langit dan demi yang datang dimalam hari (1) Dan apakah engkau tahu apakah yang datang pada malam hari itu? (2) Itulah bintang yang bersinar tajam (3)." [QS. Ath Thariq: 1-3]

Allah ta'ala menyebutkan tafsir Ath Thariq dalam kelanjutan ayat secara berurut dan secara langsung.

Diantara bentuk tafsir Al-Quran dengan Al-Quran adalah disebutkannya makna ayat tersebut di ayat lainnya yang terdapat dalam Alquran.

Contohnya seperti firman Allah ta'ala:

ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻠْﺒِﺴُﻮﺍ ﺇﻳﻤَﺎﻧَﻬُﻢ ﺑِﻈُﻠْﻢٍ ﺃُﻭْﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻷَﻣْﻦُ ﻭَﻫُﻢ ﻣُّﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ
"Dan orang-orang yang beriman serta tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kesyirikan maka mereka akan mendapatkan keamanan serta mendapatkan petunjuk." 
[QS. Al An'am: 82]

Disebutkan dalam Shahihain dari hadits Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa tatkala ayat ini turun maka sebagian para sahabat merasa berat dan berkata :

"Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami yang tidak pernah mendzalimi dirinya."

Maka Beliau bersabda:

ﻟﻴﺲ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﻮﻟﻮﻥ،  ﻟﻢ ﻳﻠﺒﺴﻮﺍ ﺇﻳﻤﺎﻧﻬﻢ ﺑﻈﻠﻢ : ﺑﺸﺮﻙ، ﺃﻭ ﻟﻢ ﺗﺴﻤﻌﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻝ ﻟﻘﻤﺎﻥ ﻻﺑﻨﻪ :  ﻳَﺎ ﺑُﻨَﻲَّ ﻻ ﺗُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﺇﻥَّ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙَ ﻟَﻈُﻠْﻢٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ  ‏
[ ﻟﻘﻤﺎﻥ : 13 ‏]

"Bukanlah seperti yang kalian katakan tadi, makna "tidak mencampur adukkan dengan kedzaliman" adalah kesyirikan, tidakkah kalian mendengarkan ucapan Lukman kepada anaknya :

"Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah (kesyirikan), karena sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang sangat besar."

Dalam keterangan ini menjelaskan bahwa makna kedzaliman dalam surah Al An'am ditafsirkan dengan ayat dalam surah Luqman. Wallohu a'lam.

Para 'ulama salaf sangat memiliki perhatian luar biasa di dalam fan (bidang) ini, yaitu menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran, dan diantara yang paling terkenal dalam bidang ini adalah Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahullah.



 Tafsir Al Qur'an dengan sunnah

Dari sumber penafsiran Al-Quran yang kedua adalah menafsirkan Al Qur'an dengan sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

Karena diantara tugas para Nabi adalah untuk menyampaikan dan menjelaskan perkara yang datang dari sisi Allah subhanahu wa ta'ala, dan diantaranya adalah Al Qur'an.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

ﻭَﺃَﻧﺰَﻟْﻨَﺎ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻟِﺘُﺒَﻴِّﻦَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻣَﺎ ﻧُﺰِّﻝَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢ
"Dan Kami telah menurunkan kepada engkau (wahai Muhammad) Adz Dzikr (sunnah) agar engkau menjelaskan kepada manusia tentang segala perkara yang diturunkan kepada mereka."
 [QS. An Nahl: 44]

Dan Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

ﻭَﺃَﻧﺰَﻝَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَﻋَﻠَّﻤَﻚَ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦْ ﺗَﻌْﻠَﻢُ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻓَﻀْﻞُ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻋَﻈِﻴﻤﺎ
"Dan Allah telah menurunkan kepada engkau (wahai Muhammad) Al Kitab (yaitu Al Qur'an) dan Al Hikmah (yaitu Sunnah), dan mengajarkan kepada engkau perkara yang tidak engkau ketahui, dan adalah keutamaan Allah yang diberikan kepadamu sangatlah besar.”  
[QS. An Nisa': 113]

Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

ﺃﻻ ﺇﻧﻲ ﺃﻭﺗﻴﺖ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻣﺜﻠﻪ
"Ketahuilah, sungguh aku diberikan Al Qur'an dan yang semisalnya." 

Setelah menyebutkan hadits ini, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;

ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺑﻼ شك
"Yang diinginkan disini adalah sunnah tanpa keraguan lagi." 
(Lihat At Tibyan Fii Aqsamil Qur'an:  156)

Berkata Makhul rahimahullah :

ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺃﺣﻮﺝ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ
"Al Qur'an lebih butuh terhadap Sunnah daripada kebutuhan sunnah terhadap Alquran."
 (Lihat Al Jami' Li Ahkamil Qur'an 1/39).

Dan penjelasan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam tentang suatu ayat adalah kebenaran mutlak yang tidak boleh ditolak.

Allah subhanahu wa ta'ala telah merekomendasi dalam firman-Nya :

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨﻄِﻖُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻬَﻮَﻯٰ ‏# ﺇِﻥْ ﻫُﻮَ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺣْﻲٌ ﻳُﻮﺣَﻰٰ
"Tidaklah dia (Muhammad) itu berucap dari hawa nafsu # Namun itu adalah wahyu yang diturunkan kepadanya."
 [QS. An Najm: 3-4].

Diantar contoh tafsir Alquran dengan Sunnah :

Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu berkata;

Tatkala turun ayat :

فكلوا واشربوا ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺨَﻴْﻂُ ﺍﻷَﺑْﻴَﺾُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻴْﻂِ ﺍﻷَﺳْﻮَﺩِ
"Maka makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam." [QS. Al Baqarah: 187].

Maka aku pun mengambil ikatan benang hitam dan ikatan benang putih, lalu aku letakkan dibawah bantalku, dan aku memperhatikannya dimalam hari, namun tidak pernah nampak bagiku, maka keesokannya aku mendatangi Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut, lalu Beliau bersabda;

ﺇﻧﻤﺎ ﺫﻟﻚ ﺳﻮﺍﺩ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺑﻴﺎﺽ النهار
"Yang dimaksud itu adalah hitam (gelap) nya malam dan putihnya siang."

Contoh lainnya diriwayatkan dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu berkata :

Suatu hari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah dan membaca ayat;

ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍْ ﻟَﻬُﻢ ﻣَّﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢ ﻣِّﻦ ﻗُﻮَّﺓٍ ﻭَﻣِﻦ ﺭِّﺑَﺎﻁِ ﺍﻟْﺨَﻴْﻞِ ﺗُﺮْﻫِﺒُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﻋَﺪْﻭَّ ﺍﻟﻠّﻪِ و عدوكم
"Dan persiapkanlah dari apa yang kalian mampu dari kekuatan dan dari kuda-kuda perang yang kalian pergunakan untuk memerangi musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian." 
[QS. Al Anfal: 60]

Lalu Beliau bersabda:

 ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ ، ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ ، ﺃﻻ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﺍﻟﺮﻣﻲ ‏
"Ketahuilah bahwa kekuatan disini adalah lemparan (memanah), ketahuilah bahwa kekuatan disini adalah lemparan (memanah), ketahuilah bahwa kekuatan disini adalah lemparan (memanah)."

Dan banyak lagi contoh lain tentang penafsiran Alquran dengan sunnah ini.


___________________________
Ustaz Fauzan Abu Muhammad Al-Kutawy ~
Pendakwah Bebas
_____________________________

Comments